Selasa, 21 Maret 2017

Marah karena Mertuaku Membatalkan Janji Menemaniku Melahirkan, Tapi Kemudian Dia Memberiku "Kantung Hadiah" yang Membuatku Langsung Menangis…

Tenang aja kawan... Ibu manapun pasti mengasihi
anaknya dan istri anaknya, apalagi cucunya...

Aku dan suamiku sudah kenal sejak kami kuliah. Setelah lulus, kami berdua pergi ke Shang Hai untuk bekerja dan mengumpulkan modal kita untuk bekeluarga.








3 tahun kemudian, setelah merasa hubungan kita sudah mantap, dia membawaku bertemu dengan orangtuanya.

Pandangan pertama ibu mertuaku dulu itu sinis, mungkin karna gaya dandanku yang mirip seperti anak perkotaan dan mertuaku tidak terbiasa.

Aku bahkan dengar bisikan ibu mertua ke papa mertua yang bertanya apakah aku ini wanita yang baik?

Suamiku hanya ketawa... Untungnya ibu dan papa mertua tidak menghalangi pernikahan yang akan kami jalani.



Aku adalah wanita yang memulai semua hal dari 0, bersama suamiku. Karna itu, setelah menikah, kami tahu kami akan punya anak dan kami menyewa rumah dekat kantor kami agar hemat transportasi.

Aku pun hamil setelah 3 bulan kami menikah dan kakak ipar kami juga mengandung di waktu yang sama!



Awalnya, ibu mertua sudah berjanji mau menjagaku dan anakku setelah aku melahirkan nanti,

tapi mungkin takdir berkata lain, suamiku berkata, janin kakak ipar mengalami masalah dan lahir sebelum waktunya, jadi ibu mertua harus pergi ke sana menjaga dia.

Padahal, 7 hari setelah kejadian, aku akhirnya melahirkan putraku.




Karna suamiku juga orang yang super sibuk, dia tidak menemani proses melahirkanku, hanya saat malam hari dia akan menginap di rumah sakit menemaniku.


Aku pergi ke rs sendirian, melahirkan sendirian, dan sadar pun sendirian. Aku melihat ibu muda disebelahku juga baru melahirkan.

Bedanya, suami, ibu mertuanya, papa mertuanya, semua hadir melengkapi kebahagiaannya, sedangkan aku, sepertinya sebatang kara berjuang sendirian.

Aku marah, karna wanita memang lebih menjunjung tinggi perasaan. Aku gak bisa terima sama sekali waktu itu.

Hari ke-5 setelah aku keluar dari rumah sakit, suamiku menjemputku pulang.

Sesampai kami tiba di rumah, suamiku memberikan sebuah kantong plastik yang dibungkus seperti hadiah.

Katanya,"Sayang, itu hadiah melahirkan dari mama. Sepatu khusus ibu baru yang habis melahirkan katanya. Cocok untuk kamu."

Di saat itu, aku sebenarnya masih belum terima dengan ketidakhadiran ibu mertuaku, tetapi, dari hadiah kecilnya ini, aku merasa, dia sebenarnya sayang sama aku.

Aku yang terharu, aku buka dan mencobanya. Eh tapi di dalamnya, ada buku tabungan lho! Aku kaget dan isinya itu 800 juta Rupiah!

Aku tanya suamiku, dia juga gak tahu itu darimana. Mungkin jatuh ke dalam ya aku pikir, aku telepon ibu mertua saat itu juga.



Ibu mertua hanya tertawa dan menjawab,"Menantuku yang kuat, yang pemberani, kamu tahu uang itu aku simpan dari uang tabungan pensiunan aku. Kamu menikah dengan anakku, tetapi anakku gak punya apa - apa dan kalian harus keluar untuk sewa rumah. Kamu masih setia menemaninya dan itu gak mudah.

Aku menghargai perjuangan kamu. Aku sangat merasa bersalah gak bisa hadir di kelahiran anak pertamamu. Bagaimanapun itu cucu aku juga. Aku gak bisa tidur beberapa minggu karna perasaan bersalah ini, tapi aku juga gak bisa meninggalkan menantu yang satu ini. Keadaannya lemah, tidak kuat seperti kamu yang 5 hari aja udah bisa keluar rumah sakit.

Karna itu, uang itu kamu simpan, kalau perlu, kamu bisa gunakan uang itu datangkan pembantu rumah tangga untuk membantumu di rumah. Mama janji, setelah kakak iparmu sehat, aku akan segera tinggal di rumahmu, membantumu dan menjagamu. Yang sehat ya nak... aku merindukan kalian semua."

Aku gak bisa menjawab apa - apa, hanya isak tangis karna haru yang bisa aku keluarkan. Betapa aku jahat salah paham dengan ibu mertuaku yang sebenarnya baik dan sayang kepadaku.

Aku berharap dari ceritaku ini, kita lebih bisa menghargai orang - orang sekitar kita yang mungkin tidak kelihatan perbuatan baik mereka ya.

@cerpen.co.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

0 komentar:

Poskan Komentar